Thursday, 1 July 2010

BANJIR DI BULAN JUNI

Pada tanggal 30 Juni 2010, Perumahan Cirendeu Permai kembali dilanda musibah yang sudah biasa terjadi, yaitu banjir. Namun ada beberapa perbedaan banjir kali ini dengan musibah banjir sebelumnya. Meskipun pada dasarnya musibah banjir sama saja dari dulu hingga sekarang.

Perbedaan pertama, banjir kali ini terjadi di bulan Juni. Bulan dimana seharusnya masa kritis banjir sudah berlalu. Selama ini banjir di Perumahan Cirendeu Permai terjadi sekitar bulan Januari sampai Maret. Curah hujan yang masih tinggi sampai bulan Juni ini, memang merupakan suatu fenomena yang seingat saya belum pernah terjadi. Tahun yang lalu 2009, sebenarnya tidak terjadi banjir. Namun berhubung Bendungan Situ Gintung jebol, Perumahan Cirendeu Permai yang indah ini tenggelam. Jebolnya Situ Gintung tidak dapat dikategorikan sebagai musibah banjir. Jadi dapat kita katakan bahwa tahun 2009 tidak terjadi banjir. Pada tahun ini, kami warga Perumahan ini sudah menarik napas lega karena sudah lewat masa kritis dan tidak terjadi banjir. Itu artinya, sudah dua tahun perumahan ini tidak mengalami musibah banjir. Tapi ternyata kenyataan bicara lain.

Perbedaan kedua, saya pribadi pada banjir-banjir sebelumnya berkonsentrasi pada keluarga saya sendiri. Namun pada banjir kali ini, tepatnya sejak 1 Maret 2010, saya sudah menerima tanggung jawab sebagai sekretaris RW. Itu membuat saya sedikit agak lebih sibuk dan lebih banyak berada di luar rumah daripada mengurusi keluarga saya. Tapi syukur kepada Allah keluarga saya tidak kurang suatu apa pun.

Perbedaan ketiga, baru banjir kali ini ada banyak sekali pejabat Pemda yang datang meninjau Perumahan kami. Pada kesempatan ini saya Mekar Wijaya; selaku Sekretaris RW 12 Cirendeu Permai dan sekaligus mewakili Bapak Ketua RW Seto Mulyadi dan seluruh warga Perumahan Cirendeu Permai, menghaturkan rasa terima kasih kami kepada:

  1. Bapak Camat Ciputat Timur yang diwakili oleh Sekertaris Camat Bapak H. Deden Juardi S.Sos. M.Si, beserta jajaran Kecamatan Ciputat Timur dan Koordinator Pol PP Ciputat Timur, yang datang meninjau kami.
  2. Lurah Cirendeu Bapak Cherul Saduddin, yang sejak pukul 9 pagi hingga pukul 4 sore terus memantau Perumahan kami.
  3. Kepala Bidang Dinas Pengairan Bina Marga Tangerang Selatan Bapak Yudianto; yang membawa 3 buah perahu karet. Bapak Yudi juga turut mengawasi perumahan bersama Bapak Lurah dari pagi sampai sore.
  4. Jajaran Brimob Ciputat yang datang paling awal atas usaha Bapak-bapak Polsek Ciputat; Kanit Lantas Bapak Ginanto, Kanit Patroli Bapak Sujati. Satuan Brimob beranggotakan 13 personil membawa 1 perahu karet. Bapak-bapak Brimob ini yang pertama kali bergerak dengan saya masuk ke perumahan dengan perahu karet. Saya sangat terkesan dengan komandan Brimob yang memimpin satuan ini. Saya bertanya nomor HP beliau supaya kalau ada apa-apa bisa cepat ditangani; namun beliau menjawab supaya saya menghubungi Kepolisian wilayah karena “Kami menerima panggilan per wilayah pak” katanya. Saya mau memberi beliau uang lelah, BELIAU MENOLAK!! Hebat orang ini! Ini baru Polisi pengayom dan pelindung masyarakat. Sementara majalah Tempo memberitakan bahwa ada rekening gendut Jenderal-jenderal Polisi, “dibawah” sini ada polisi yang hatinya masih baik. Kalau memang benar ada rekening itu, saya mohon supaya diblokir dan diproses dengan cara yang semestinya. Uang itu dari mana? Kenapa uang itu mengalir ke rekening Jendral-jendral Polisi? Karena kasus apa? Siapa yang memberi?
  5. Jajaran Polsek Ciputat yang diwakili oleh Babinmas Bapak Suwarto. Polsek Ciputat adalah institusi yang saya telpon pertama kali, dan langsung menanggapi dengan cepat tanggap. Terima kasih banyak kepada bapak yang menerima telepon saya yang saya tidak ingat namanya. Sewaktu saya berpikir untuk mencari perahu karet, sebenarnya saya menelpon bantuan Pemadam Kebakaran 113. Tapi nomor 113 ini tidak bisa melalui hp walaupun sudah menggunakan kode area. Saya bisa menelpon 021103 dari Hp untuk tahu waktu (“Bila gong berbunyi”) tapi menelpon 113 dalam keadaan darurat dimana telepon rumah sudah tidak bisa digunakan malah tidak bisa. Kemudian saya memutuskan untuk menelepon Polsek Ciputat.
  6. Beberapa Bapak-bapak Polisi yang mengontrol perumahan kami yang datang silih berganti sampai hampir maghrib. Bapak-bapak aparat pemda yang tidak bisa saya sebutkan namannya.
  7. Kami juga mendapat sumbangan 150 dus air mineral dari Palang Merah Indonesia Tangerang Selatan. Berdasarkan informasi yang saya terima dari Bapak Lurah Saddudin, sumbangan ini merupakan sumbangan pribadi ibu Hj. Airin Rachmi Diany SH. MH. Pada setiap dus ditempel stiker yang bergambar wajah ibu Airin. 150 dus air mineral itu masih ditumpuk di teras rumah saya dan segera akan dibagikan. Teras rumah saya sekarang penuh dengan gambar wajah Ibu Airin yang cantik jelita. Terimakasih kepada ibu Airin.
  8. Berbagai pihak yang saya tidak bisa sebut satu persatu. TERIMA KASIH

Pada pagi hari sekitar pukul 9 kami, Bapak Lurah, Bapak Yudi, saya dan salah seorang warga berkunjung ke kediaman bapak Seto Mulyadi. Kami mendapat keterangan dari Bapak Yudi bahwa akan ada proyek Normalisasi Sungai Psanggrahan. Akan ada proyek pengerukan Sungai Psanggrahan sehingga kedalaman sungai dapat kembali normal dan dapat mengurangi dampak air kiriman dari Bogor, Depok dan Sawangan. Bapak Yudi juga mengatakan bahwa jembatan di Perumahan kami akan ditinggikan serta akan dibuat sodetan. Mudah-mudahan ini akan segera dapat terealisasi. Sewaktu kembali dari kediaman Kak Seto menuju depan perumahan, kami mengendarai perahu karet melewati beberapa rumah warga. Bapak Lurah Saeduddin menyapa salah seorang warga dan mengatakan dengan lantang “Ini banjir yang terakhir Pak!!”. Mudah-mudahan janji Pak Lurah sebagai Pemimpin kami kepada salah satu warga saya dapat benar-benar terjadi. Ini banjir terakhir.

Saya pernah menulis di blog ini bahwa banjir di JABODETABEK bukan semata-mata disebabkan karena curah hujan. Banjir di wilayah ini lebih banyak disebabkan karena tidak matangnya perencanaan pembangunan wilayah perkotaan. Setiap ganti gubernur, ganti kebijakan. Setiap ganti camat, ganti proyek. Camat yang satu melaksanakan satu proyek, ganti camat proyek itu dibongkar. Harus ada semacam GBHN untuk membangun sebuah kota. Saya tahu bahwa GBHN sudah dihapuskan. Tapi apakah sudah saatnya bagi Bangsa ini untuk menghapus GBHN? GBHN bisa dihapus kalau program jangka panjang 30 tahun Orde Baru berhasil. Saya tidak mengatakan Orde Baru gagal tapi kita harus bertanya apakah bangsa ini sudah mencapai tahap Lepas Landas? Yang terjadi di bulan Juni adalah Lepas Landas Buat Kekasih, yang membuat Hati saya hancur, sedih dan pilu.

Harus ada perencanaan jangka panjang yang diikuti oleh semua pejabat daerah yang menjabat. Perencanaan jangka panjang yang menyeluruh yang dibuat oleh ahli-ahli tata kota. Mungkin Perumahan yang saya tinggali ini juga tidak tepat perijinannya. Tapi perumahan ini sudah mendapatkan ijin dan sudah dibangun bertahun-tahun yang lalu. Sewaktu perumahan ini dibangun, banjir memang terjadi tetapi tidak rutin setiap musim hujan. Baru rutin setiap tahun mulai tahun 1992, dan semakin parah pada tahun-tahun selanjutnya. Mungkin ada pengaruh dari perubahan iklim dan curah hujan yang tidak menentu. Kita pernah mengalami kemarau panjang dan di bulan Desember curah hujan begitu tinggi. Tahun ini kita mengalami musim penghujan yang panjang. Tapi menurut saya, pembangunan perkotaan di Jakarta yang merupakan hilir dari semua sungai juga menjadi penyebab banjir. Pengembang-pengembang Perumahan, gedung bertingkat dan pembangunan Jalan, baik jalan tol maupun yang bukan tol, yang tidak mengindahkan saluran air bawah tanah juga menjadi penyebab banjir di Jakarta.

Integritas pejabat daerah dan pola hidup buang sampah di sungai dari rakyat kita juga menjadi penyebab banjir di JABODETABEK. Pengerukan sungai Psanggrahan di Tangerang Selatan tidak akan berpengaruh besar apabila badan sungai Psanggrahan yang di Jakarta tidak ikut di normalisasi. Banjir kanal Timur sudah hampir sempurna dibangun. Mudah-mudahan secara bertahap, masalah banjir dapat segera diatasi. Sekian dari saya, JAYALAH TERUS INDONESIA.

2 comments:

  1. Cara NU untuk Mencari Keputusan dalam Kembali berjihad di Tangsel 2010 (Banten): Marissa Haque

    JAKARTA- Marissa Haque tak pernah bisa jauh-jauh dari aktivitas politik. Saat ini artis yang juga mantan anggota DPR itu tengah memberikan atensinya terhadap pelaksanaan pemilihan kepala daerah (pilkada) perdana Tangerang Selatan. Sebagai bagian dari Provinsi Banten, Tangerang Selatan adalah kota baru hasil pemekaran dari Kabupaten Tangerang pada 2008.

    Sabtu lalu (17/7), misalnya, dengan didampingi sang suami, rocker Ikang Fawzi, Marissa tampak melebur dengan Pemuda Integritas Tangerang (Pita) Selatan. “Saya memang sangat mendukung gerakan mereka,” kata Marissa saat dihubungi tadi malam (18/7).

    Pita Selatan dibentuk puluhan organisasi kepemudaan (OKP) yang berada di daerah tersebut. Di antaranya adalah Gerakan Pemuda Anshor, Gerakan Pemuda Al-Wasliyah, Pelajar Islam Indonesia (PPI), Generasi Muda Buddhis, Pemuda Katolik, serta Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI).

    Lembaga baru itu menjadi wadah penjaringan khusus bagi calon perseorangan yang tidak memiliki kendaraan politik. Hadirnya Marissa di acara Pita Selatan apakah mengindikasikan niatnya untuk ikut maju sebagai kandidat. “Sampai detik ini jawaban saya masih nggak mau,” tegas Marissa.

    Dia menandaskan sama sekali tidak haus dengan kekuasaan atau popularitas. “Saya bergerak bukan untuk maju. Saya siap memberikan dukungan kepada calon lain yang lebih baik,” tutur Marissa.

    Dia hanya berharap Tangerang Selatan bisa tampil sebagai centre of excellence. Untuk itu, diperlukan kepemimpinan yang benar-benar tepat.

    Perjalanan politik Marissa sendiri cukup dinamis. Setelah sukses di panggung hiburan sebagai artis papan atas, dia terpilih sebagai anggota DPR periode 2004-2009 dari PDIP. Namun, Marissa “dipaksa” meninggalkan parlemen pada akhir 2006 setelah menerima pinangan PKS untuk maju sebagai calon wakil gubernur Banten, berpasangan dengan Zulkieflimansyah.

    Hasilnya tidak menggembirakan. Duet Zulkieflimansyah-Marissa dikalahkan pasangan Ratu Atut Chosiyah-M. Masduki. Meski begitu, Marissa tetap tidak patah arang. Pada Pemilu 2009, wanita kelahiran Balikpapan, 15 Oktober 1962, itu maju sebagai caleg DPR dari PPP. (pri/c9/tof)

    Short URL: http://radarcirebon.com/?p=575
    (marissa haque memutuskan dengan cara nahdatul ulama untuk tangsel 2010)

    ReplyDelete
  2. Terima kasih atas informasinya. Saya juga sudah mendapat informasi di beberapa artikel di internet terutama tentang Pembangunan Gedung DPRD Banten dan lain sebagainya.

    Tapi tunjukkan pada saya orang bersih yang bisa memimpin daerah di Indonesia dengan kondisi rakyat kita yang "dipaksa" berdemokrasi seperti ini. Orang yang bersih pasti kalah sama yang punya uang. Dan di Indonesia ini orang-orang yang punya uang itu biasanya "nggak bersih".

    Gimana?? Sistemnya harus diganti dulu.

    ReplyDelete