Sunday, 11 January 2009

Fenomena Alam Atau Hukum Alam

Pada tanggal 1 Oktober 2008 setelah satu bulan penuh berpuasa, umat Islam di Indonesia merayakan hari raya Idul Fitri. Hari raya ini merupakan hari yang penuh suka cita dan kebahagiaan bagi umat muslim. Hari kemenangan setelah satu bulan menahan amarah, menahan pandangan, menahan lapar dan dahaga. Hari dimana diri umat muslim suci dari dosa setelah dibersihkan di bulan Ramadhan. Hari dimana umat muslim melaksanakan Shalat Ied secara bersama-sama.

Bulan Ramadhan tahun ini memiliki ciri tersendiri dibandingkan tahun-tahun sebelumnya dimana penanggalan qamariah berdasarkan peredaran bulan, jatuh di tanggal yang sama dengan penanggalan masehi berdasarkan peredaran matahari. Jadi tanggal 1 Ramadhan jatuh pada tanggal 1 September. Bulan Ramadhan tahun ini juga berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, dimana dua Organisasi Masa Islam terbesar, Nahdatul Ulama dan Muhammadiyah, menentukan jatuhnya tanggal 1 Syawal pada tanggal yang sama, yaitu tanggal 1 Oktober 2008. Hal ini merupakan hal yang amat jarang terjadi setelah selama bertahun-tahun kedua ormas Islam ini melaksanakan Idul Fitri di hari yang selalu selisih satu hari. Muhammadiyah selalu lebih cepat 1 hari dari pada NU. Muhammadiyah selalu berpuasa selama 29 hari. Sementara NU selalu menggenapkan puasa sampai 30 hari. Pemerintah yang berwenang menentukan 1 Syawal juga selalu menggenapkan puasa Bulan Ramadhan sampai 30 hari.

Pada tahun ini, Pemerintah dan dua Ormas Islam terbesar sepakat menentukan jatuhnya 1 Syawal pada hari yang sama, 1 Oktober 2008. Umat Islam di Indonesia secara bersama-sama berpuasa selama 30 hari. Kita berharap agar hal ini merupakan suatu hal wajar yang mengikuti hukum alam yang ada. Hukum yang bersifat pasti dan mutlak yang telah ditetapkan Allah terhadap makhluk-Nya Bulan, yang dipergunakan oleh manusia untuk menentukan waktu.

Umat Islam mendasarkan perhitungan tahun menurut peredaran bulan. Seperti termaktub dalam Surat Yunus 10 ayat 5:

هُوَالّذِيْ جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَآءًوَّالْقَمَرَ نُوْرًاوَّقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوْ ا عَدَدَالسِّنِيْنَ وَالْحِسَابَ مَا جَلَقَ اللهُ ذلِكَ اِلابِالْحَقِّ يُفَصِّلُ الايتِ لَقَومٍ يَّعْلَمُوْنَ

Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan pengaturan-pengaturan yang benar. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.



Allah menetapkan manzilah-manzilah bulan sejak bulan pertama kali diciptakan dan tidak berubah sampai hari ini dan mungkin hingga hari kiamat nanti. Pengamatan dan perhitungan peredaran bulan sudah dilakukan orang selama berabad-abad dan perhitungan tersebut telah dapat menentukan dengan tepat keberadaan bulan pada waktu tertentu. Sebenarnya umat yang paling berhak dan paling pantas melakukan perhitungan terhadap bulan adalah umat Islam; dan umat yang seharusnya paling mengerti dan mengenal bulan adalah umat Islam. Bagi umat Islam, bulan bukan saja sebagai hiasan malam atau penentu waktu. Bagi umat Islam, bulan adalah salah satu tanda kebesaran Allah yang beberapa kali Allah sebutkan dalam al-Qur'an, kitab suci umat Islam.

Berdasarkan pada peredaran bulan ini pula jumlah hari bulan Ramadhan ditentukan. Peredaran Bulan dengan sendirinya menentukan jatuhnya tanggal 1 Syawal, tanggal dimana hari Idul Fitri dirayakan dan umat Islam diharamkan untuk berpuasa. Penentuan jatuhnya tanggal 1 Syawal selama bertahun-tahun di Indonesia selalu berbeda antara dua ormas Islam terbesar, N.U dan Muhammadiyah. Selama bertahun-tahun pula umat Islam di Indonesia merayakan hari raya Idul Fitri secara terpisah, berbeda 1 hari. Muhammadiyah berpuasa selama 29 hari sementra N.U dan Pemerintah berpuasa selama 30 hari. Penyebab dari perbedaan penentuan hari tersebut, menurut informasi yang tumbuh di masyarakat, adalah perbedaan metode penentuan kedudukan bulan. N.U menggunakan cara melihat langsung (rukyatul hilal) sementara Muhammadiyah menggunakan metode perhitungan (hisab)

Perbedaan metode ini menghasilkan hasil perhitungan yang selalu selisih satu hari selama bertahun-tahun. Obyek yang dihitung sama; umat Islam di Indonesia sama-sama menghitung bulan, gerakan bulan begitu-begitu saja dari dulu, sudah banyak ahli-ahli yang mempelajari gerakan bulan, tapi tetap saja umat Islam di Indonesia selama bertahun-tahun berlebaran pada hari yang berbeda. Bulan yang gerakannya ditentukan Allah dari dulu begitu-begitu saja secara konsisten terus menerus sampai waktu yang ditentukan, menjadi suatu yang tidak pasti di Indonesia. Indonesia memang negara yang penuh dengan ketidakpastian, tetapi gerakan bulan merupakan ilmu alam yang pasti. Islam di Indonesia membuat suatu kemutlakan alam, suatu ketetapan Allah yang hakiki menjadi suatu yang tidak pasti. Menjadi suatu yang relatif tergantung siapa yang menghitung. Hal ini terutama untuk dua ormas terbesar Islam di Indonesia.

Islam merupakan agama akal. Islam mendorong umatnya untuk melihat semesta, untuk menyelidiki alam, untuk berpikir dan untuk berilmu pengetahuan. Islam adalah agama logika. Islam tidak membolehkan umatnya bertaklid buta. Islam mendidik umatnya untuk taqwa dan taqwa harus didahului dengan usaha dan kerja. Taqwa harus didasari oleh ilmu dan pengetahuan. Taqwa harus dinaungi oleh iman. Bukan menghabiskan waktu sepanjang hari di masjid berzikir dan berdo’a.

Pada jaman sekarang ini, semua informasi yang diperlukan untuk menghitung posisi bulan telah ditemukan. Para ahli di Indonesia tinggal memanfaatkannya saja. Teknologi telah membuktikan bahwa sudah ada orang yang bisa mendarat di bulan. Untuk bisa mendarat di bulan, diperlukan perhitungan yang sangat teliti, bukan saja posisi bulan tetapi setiap gerakan bulan dan kedudukannya terhadap bumi. Orang yang mendarat di bulan harus mendarat disisi yang tepat dari bulan untuk menghindari siang hari di bulan. Bulan yang tidak memiliki atmosfer membuat 100 % radiasi matahari langsung menerpa daratannya. Orang tersebut juga harus pergi dari bulan sebelum siang hari di bulan datang. Semua itu bisa dilakukan dengan perhitungan yang tepat. Perhitungan tersebut berdasarkan penelitian dan observasi selama bertahun-tahun. Mereka membuat simulasi dalam komputer yang menggambarkan gerakan bulan berdasarkan perhitungan mereka. Dari situ mereka memiliki gambaran yang menyeluruh tentang bulan. Dan orang yang mereka kirim ke bulan bisa kembali dengan selamat sesuai jadwal yang direncanakan.



Selama proses observasi dan penelitian, mereka pun pasti mengalami perbedaan-perbedaan kesimpulan dan pendapat. Namun perbedaan itu tidak mereka biarkan dan dijadikan suatu kebanggaan kelompok. Mereka sadar bahwa yang dihitung ini adalah bulan dan perhitungan mereka dibutuhkan untuk satu tujuan bersama yang penting bagi bangsa dan negara mereka. Selisih perhitungan harus dicari sebab dan sumbernya. Perhitungan mereka harus sama. Mereka menghitung objek yang sama. Meleset sedikit, milyaran dolar akan hilang. Belum lagi kerugian imateriil yang timbul dari kesalahan perhitungan mereka. Tidak ada perbedaan metode yang menimbulkan perbedaan hasil perhitungan. Kalaupun ada, itu harus diselidiki kenapa. Perhitungan bulan sebenarnya murni merupakan ilmu pengetahuan alam yang pasti. Perbedaan pandangan dan kesimpulan buat mereka menjadi berkah pada saat mereka bisa mengatasi dan merekonsiliasinya. Berkah tersebut tergurat dalam pada lembaran sejarah dunia. Usaha mengatasi perbedaan tersebut menjadi sebuah prestasi besar yang dicapai oleh sebuah bangsa.

Hal seperti itu belum bisa menjadi suatu kebiasaan di Indonesia. Indonesia yang berdasarkan Pancasila ini, setelah era reformasi, muncul perbedaan-perbedaan yang semuanya itu dianggap berkah padahal bukan. Dan tidak menjadi berkah. Rasulullah bersabda bahwa “Perbedaan diantaramu adalah berkah”. Namun perbedaan yang bagaimana? Perbedaan bisa menjadi berkah apabila masalah yang timbul dari perbedaan tersebut bisa diselesaikan. Atau paling tidak perbedaan tersebut tidak menimbulkan gejolak. Sejarah membuktikan bahwa masyarakat yang terlalu sering bergolak akan hancur dengan sendirinya. Masyarakat yang sering bergolak akan kelelahan sendiri. Mereka tidak mampu menyelesaikan masalah internal mereka. Mereka tidak bisa membangun dan memajukan kehidupan mereka karena sibuk dengan masalah keamanan internal. Apabila ancaman internal tidak dapat diatasi maka ancaman eksternal hanya tinggal menunggu waktu saja untuk menyelesaikan tugasnya.

Masyarakat yang relatif tenang adalah masyarakat yang dapat bertahan dalam putaran waktu. Masyarakat tersebut tenang karena mereka dapat menyelesaikan masalah internalnya. Masyarakat yang tenang adalah masyarakat yang bisa menyelesaikan perbedaan yang ada dengan cara yang efektif dan efesien. Masyarakat yang tenang adalah masyarakat yang bersatu karena bisa menerima perbedaan. Suatu masyarakat bisa menerima perbedaan disebabkan oleh beberapa faktor. Faktor pertama adalah karakter dan watak serta sifat dasar dari individu-individu yang membentuk masyarakat tersebut. Faktor kedua adalah tingkat pendidikan dan kualitas sumber daya manusia secara keseluruhan dari masyarakat tersebut. Faktor ketiga adalah pengalaman masyarakat tersebut dalam menjalani kehidupan bermasyarakatnya. Ketiga faktor tersebut akan membentuk kesadaran dan keinginan untuk saling mengikat diri dalam suatu komunitas manusia. Faktor yang paling menentukan adalah faktor pendidikan dan kualitas sumber daya manusia. Sifat dan watak bisa diubah melalui latihan dalam hidup. Pengalaman bisa dipelajari dari pengalaman orang lain sehingga kita tidak perlu mengalaminya.. Pendidikan yang baik bisa mengisi pikiran dengan ilmu dan meluaskan wawasan pengetahuan. Pendidikan bisa membentuk pola dan cara berpikir.

Islam adalah agama fitrah yang menghendaki persatuan umatnya. Semua pilar-pilar Islam mendorong umatnya untuk menuju pada satu tujuan. Setiap muslim mengucapkan kalimat syahadat dengan kata-kata yang persis sama. Setiap muslim shalat dengan menghadap pada arah kiblat yang sama. Setiap muslim melakukan ibadah puasa dengan dasar perhitungan yang sama yaitu bulan. Setiap muslim diwajibkan membayar zakat dan setiap muslim melakukan ibadah haji ke tempat yang sama. Itu baru rukun Islam. Masih ada lagi bahwa setiap muslim memiliki kitab suci dan nabi yang sama. Dan akhirnya setiap muslim menyembah sesembahan yang sama yaitu الله. Semua persamaan itu akan tetap ada hingga akhir jaman.

Sejarah peradaban Islam mengungkapkan pada kita bahwa perpecahan sudah timbul pada masa-masa kekhalifahan Usman ibn Affan ra. Dan hal itu terus menerus ditumbuh kembangkan dan dipelihara selama berabad-abad sehingga kata-kata “Perbedaan diantaramu adalah berkah” berubah menjadi “Perbedaan diantaramu adalah musibah”. Namun demikian, al-Qur'an tetap terjaga kemurniannya meskipun telah terjadi perpecahan selama berabad-abad. Pada hari ini 1429 tahun setelah hijrah nya Nabi Muhammad, perbedaan dalam umat Islam dipandang menjadi suatu yang biasa dan lumrah. Ribuan aliran dengan jutaan perbedaan mengalir seperti air di sungai.

Di Indonesia, negara dengan 200 juta ragam pikiran, perbedaan merupakan suatu yang pasti terjadi. Merupakan tanggung jawab para pemimpin untuk membuat sebab-sebab dan potensi penyebab perbedaan menjadi seminimal mungkin. Sudah banyak kelompok-kelompok ataupun yang sudah berbentuk organisasi yang memiliki perbedaan pandangan mengenai Islam sebagai agama yang dianutnya maupun masalah dan hal lainnya dalam kehidupan. Perbedaan tersebut disikapi dengan cara yang kurang bijaksana oleh sebagian umat di Indonesia, yang sebenarnya juga kurang tahu duduk persoalan yang sebenarnya. Hal itu masih ditambah dengan tingkat pendidikan yang dimiliki oleh mayoritas rakyat Indonesia yang umumnya masih rendah.

Semua perbedaan itu kita harapkan dapat diatasi dengan baik dengan cara yang bijaksana. Tetapi untuk memulai langkah ini haruslah dimulai dari suatu yang sangat dibutuhkan oleh umat Islam di Indonesia, yaitu ukuwah Islamiah. Hari Raya Idul Fitri merupakan momentum penting untuk menumbuhkan ukuwah Islamiah di Indonesia. Allah telah menciptakan Rembulan yang indah untuk menentukan waktu. Jangan jadikan rembulan indah ini sebagai pemecah belah umat, tapi jadikan rembulan indah ini sebagai faktor pemersatu. Perhitungan matematis hanya merupakan satu aspek dari agama Islam yang agung ini. Jangan jadikan hal itu sebagai perusak suasana Idul Fitri yang indah. Definisi 1 bulan harus ditentukan terlebih dahulu. Perhitungan kedudukan dan posisi bulan serta seluruh gerakan-gerakannya terhadap Bumi kita harus tahu dulu. Umat Islam adalah umat yang paling berhak atas Bulan. Bulan diciptakan untuk umat Islam bukan untuk umat yang lain. Tetapi di dunia ini, Allah Yang Maha Penyayang memberikan berkah kepada seluruh makhluk-Nya meski yang paling hina sekalipun. Di dunia ini berlaku hukum dunia, dimana logika dan pikiran manusia sangat menentukan. Dan Allah menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.

Merayakan hari raya Idul Fitri pada hari yang sama sebenarnya merupakan kepastian hukum alam yang ada sejak dahulu kala. Penelitian terhadap gerakan bulan dan planit-planit telah dilakukan selama berabad-abad dan terus dilakukan sampai hari ini. Waktu merupakan suatu ketetapan yang mutlak dalam kondisi alamiah yang wajar. Seharusnya dari dahulu kala sampai hari kiamat nanti umat Islam di Indonesia merayakan hari raya Idul Fitri pada hari yang sama. Kecuali kalau gerakan bulan tidak konsisten atau ada perubahan terhadap gerakan bulan itu. Tetapi hal itu kecil kemungkinannya untuk terjadi. Yang mungkin adalah ada hal-hal yang kita belum tahu. Ada informasi dan pengetahuan tentang bulan ini yang kita belum mengerti; yang mengakibatkan adanya perbedaan perhitungan. Apabila ada perbedaan metode yang mengakibatkan perbedaan hasil perhitungan, hal itu belum merupakan hasil akhir. Jangan perbedaan itu dijadikan suatu kebanggaan kelompok dan sebagai identitas organisasi. Jangan katakan: “Aku kelompok A. Puasanya 29 hari Lebarannya hari X”, “Aku Kelompok B. Puasanya 30 hari lebarannya hari Y”. “Aku kelompok C puasanya 31 hari Lebarannya hari Z”. Begitu seterusnya. Dalam pikiran logis sebenarnya ini aneh. Bulan yang dijadikan dasar perhitungan sama yang itu-itu juga tapi hasil perhitungannya bisa beda dan perbedaan itu tidak dicari kenapa tapi dibanggakan dan dijadikan identitas kelompok. Perbedaan itu merupakan selisih yang harus dicari dan direkonsiliasi.

Umat Islam di Indonesia harus bisa mengatakan “Aku Orang Islam. Ulil Amri memutuskan puasa X hari, Lebarannya Hari Y”. Itulah yang berlaku. Apabila terjadi kesalahan, dosa ditanggung oleh Ulil Amri. Di lain pihak ada keanehan dalam penyusunan kalender setiap tahunnya. Libur Idul Fitri ditetapkan sebanyak 2 hari. Akan tetapi hari libur itu pasti jatuh di hari ke 31. Jadi setiap tahun seperti sudah direncanakan bahwa Ramadhan tahun depan pasti akan berjumlah 30 hari. Rasulullah sendiri selama hidupnya melalui bulan Ramadhan 9 kali. Dari 9 kali Ramadhan yang dilalui Nabi, hanya 1 kali yang jumlahnya digenapkan 30 hari. Apakah jumlah hari dalam bulan Ramadhan itu memang 30 hari atau 29 hari, itu yang umat Islam harus tahu. Apakah perhitungan hari dalam tahun hijriyah sama sistemnya seperti tahun Masehi. Apakah Ramadhan selalu 30 hari seperti Januari selalu 31 hari, April selalu 30 hari atau Februari yang 4 tahun sekali ditambah 1 hari. Saya dan sebagian besar umat Islam pastilah awam soal hal ini.

Lepas dari pertanyaan itu, kita semua berharap bahwa apa yang terjadi pada tanggal 1 Oktober 2008 bukan merupakan suatu fenomena alam yang terjadi puluhan tahun sekali tetapi menjadi suatu kepastian hukum alam yang konsisten terus menerus seperti pastinya janji mentari; Terbit di Timur Tenggelam di Barat. Kebersamaan umat Islam merupakan suatu yang kita nantikan dimasa-masa datang. Terutama untuk dua ormas besar Islam. Mengenai adanya kelompok-kelompok yang tetap merayakan hari Lebaran di hari yang berbeda, kita doakan saja bahwa mereka menghitung gerakan bulan dengan cara yang benar. Ada kelompok yang mendasarkan perhitungan pada perhitungan kejawen sehingga puasa 31 hari, ada yang puasa 27 hari berdasarkan mimpi yang diterima guru besarnya. Saya hanya berharap mimpi ini bukan mimpi basah. Susah kalau mimpi basah dijadikan dasar untuk menentukan jatuhnya tanggal 1 Syawal. Ada kelompok yang mengatakan bahwa menentukan 1 Syawal harus dengan cara Rasulullah, yaitu melihat laut. Laut mana yang dilihat Rasulullah? Dari Madinah ke tepi laut terdekat jaraknya jauh. Bisa batal Lebarannya. Lagi pula laut itu pasang karena bulan atau karena pemanasan global?

Semua itu membuktikan masih minimnya tingkat pengetahuan masyarakat muslim di Indonesia. Sehingga banyak instrumen demokratisasi sulit diterapkan dan malah menjadi masalah dan kekisruhan yang tidak berujung. Demokrasi dalam Islam atau dalam politik pada umumnya boleh-boleh saja tetapi mungkin tidak sekarang. Demokrasi hanya berjalan didalam masyarakat yang memiliki tingkat kemakmuran dan standar pendidikan yang cukup tinggi. Apabila dua syarat tersebut tidak terpenuhi, potensi terjadi anarkisme sangat besar. Ada baiknya kita kembali kepada cara-cara lama yang cukup menjamin stabilitas keamanan pusat dan daerah dengan beberapa modifikasi untuk menjamin aspek keadilan. Kemajuan memang menuntut perubahan; namun perubahan yang tidak pada tempatnya dan menyebabkan kerugian belum bisa dikatakan kemajuan. Ada tahapan yang harus dilalui bangsa ini sebelum bisa mencapai tahap yang diharapkan.

No comments:

Post a Comment