Sunday, 11 January 2009

Keluarga Curie

Keluarga yang Mengabdikan Hidupnya Untuk Radioaktivitas

Keluarga ini terbentuk dari pernikahan dua orang ilmuwan yang menggeluti bidang yang sama, Piere Curie dan Maria Curie. Mereka berdua menikah pada 25 Juli 1895. Pernikahan ini menandai dimulainya suatu proses pencapaian ilmu pengetahuan yang nantinya akan merubah wajah dunia. Putri mereka dan suaminya, menggeluti bidang yang sama dan memiliki prestasi besar dalam bidang radioaktivitas. Inilah suatu prestasi luar biasa yang dicapai oleh sebuah keluarga. Dedikasi yang tinggi, profesionalisme, konsistensi dan perjuangan serta pengorbanan hidup mereka, membuat sebuah keluarga yang hanya terdiri dari 3 atau 4 orang mampu mempersembahkan kepada dunia ini suatu penemuan penting pada bidang yang jarang digeluti orang. Penemuan mereka membawa dunia ini pada era baru pengetahuan tentang pembangun materi terkecil, atom.

1. clip_image002Pierre Curie

Pierre Curie lahir di Paris pada tanggan 15 Mei 1859 dan dididik di rumah (home Schooling) oleh kedua orang tuanya. Pierre memiliki bakat yang luar biasa di bidang matematika dan sangat menyenangi pelajaran geometri spasial. Kedua mata pelajaran ini sangat mendukung penelitiannya di kemudian hari ketika ia mempelajari ctystallography. Ia mengambil studi bidang fisika pada Universitas Paris dan meraih sarjana muda dalam usia 16 tahun. Pada usia 18 tahun ia memperoleh licence ès sciences dan pada tahun 1878 menjadi asisten dosen di Universitas Paris.

Pierre dibantu oleh kakaknya , Jacques Curie, melakukan penelitian pada kristal. Pada penelitian ini Curie bersaudara menemukan bahwa beberapa jenis kristal memiliki arus listrik positif di satu ujungya dan arus negatif di ujung yang lain ketika kristal tersebut dalam keadaan kompresi (ditekan). Kristal-kristal ini juga berubah bentuk dan volumenya ketika terkena arus listrik. Efek ini mereka namakan efek piezoelectric.

Pada tahun 1882 ia ditunjuk menjadi supervisor pada Sekolah Fisika dan Kimia Industri di Paris. Pierre melanjutkan risetnya. Ia kemudian melakukan penelitian tentang magnetisme (magnetism). Ia menulis thesis doktoralnya dengan tujuan untuk menemukan apakah terdapat adanya transisi antara 3 tipe manetisme: ferromagnetisme, paramagnetisme dan diamagnetisme. Untuk mengukur koefisien magnet, ia membuat suatu basis ukuran sebesar 0.01 mg. Ia menemukan bahwa koefisien magnet pada ketertarikan bagian paramagnetik berbeda dalam proporsi yang berbanding terbalik dengan tempratur absolut yang ada. Penemuan itu diabadikan dengan namannya Hukum Curie. Pierre menemukan bahwa materi magnetik yang terbuat dari besi akan kehilangan sifat kemagnetannya apabila dipanaskan pada suhu tertentu. Tempratur ini berbeda-beda untuk tiap materi yang kemudian disebut Curie Point.

Pada musim semi 1894 Pierre dikenalkan dengan Maria Sklodowska. Pengabdian hidup mereka pada penelitian ilmiah mengantarkan mereka pada pernikahan di tahun 1895. Pada tahun yang sama, Pierre memperoleh gelar doktor di bidang fisika dari Universitas Paris untuk penelitian ilmiahnya mengenai magnetisme. Sampai pada pertengahan 1890-an penelitian yang dilakukan Pierre terkonsentrasi pada magnetisme dan kristal.

2. Marie Curie

clip_image004Lahir dengan nama Maria Sklodowska ilmuwan Prancis yang lahir di Polandia. Maria lahir di kota Warsawa pada tanggal 7 November 1867. Sewaktu kecil ia memiliki nama panggilan Manya. Pada waktu itu Polandia masih dibawah pengaruh Rusia setelah pemberontakan yang gagal pada tahun 1863. Maria Curie merupakan wanita pertama yang memperoleh hadiah nobel pada tahun 1911 di bidang kimia.

Semenjak kecil ia memiliki daya ingat yang luar biasa. Ayahnya adalah guru matematika dan fisika pada sekolah di dekat tempat tinggal mereka. Beberapa tahun setelah Maria lahir, ayahnya kehilangan pekerjaan dan tabungan karena investasi yang gagal. Maria kecil harus bekerja sehari penuh untuk mendapat makanan. Namun demikian pada usia 16 tahun ia memperoleh medali emas sewaktu menyelesaikan SMA nya yang ujiannya dilaksanakan dalam bahasa Rusia.

Maria kemudian bekerja sebagai guru dan dalam waktu yang sama mengikuti secara diam-diam pada gerakan nasionalis “Universitas Bebas” dimana ia belajar dengan bahasa Polandia pada suatu gerakan pendidikan bawah tanah.

Pada usia 18 tahun ia bekerja sebagai pengasuh anak. Sebagian pendapatannya ia gunakan untuk membiayai studi kedokteran adiknya di Paris. Hal itu dilakukan agar adiknya bisa membiayai kuliahnya nanti. Dan hal itu menjadi kenyataan karena pada tahun 1891 Maria pergi ke Paris dan tinggal bersama adiknya yang menikah dengan teman kuliahnya. Di Perancis Maria merubah namanya menjadi Marie. Disana dia mulai mengikuti kuliah dari Paul Appel, Gabriel Lippmann dn Edmond Bouty di Universitas Paris. Disana ia bertemu dengan Fisikawan yang sudah terkenal seperti Jean Perrin, Charles Maurain dan Aime Cotton. Marie bekerja hingga jauh malam dalam asrama pelajar dan hidup hanya dengan roti, mentega dan teh. Pada tahun 1893 ia mendapatkan gelar sarjananya dibidang fisika dan matematika dengan predikat cum laude, dan mulai bekerja di laboratorium penelitian milik Gabriel Lippmann. Pada musim Semi 1894 ia bertemu dengan Pierre Curie. Ia menikah setahun kemudian dengan pria tersebut.

3. Keluarga Curie

Keluarga Curie, Pierre dan Marie Curie, berkonsentrasi pada penelitian dan studi radioaktivitas. Fenomena radioaktivitas yang ditemukan oleh Henry Becquerel telah menarik perhatian Marie, dan mereka memutuskan untuk mempelajari sebuah mineral bernama pitchblende, yaitu suatu mineral radioaktif yang tersusun dari mineral uranium. Pitchblende merupakan mineral dengan aktivitas atom yang sangat tinggi. Pierre Curie kemudian ikut bersama Marie melakukan penelitian dan membantu dalam penelitian Marie. Penelitian mereka akhirnya menghasilkan suatu elemen baru yang belum pernah ditemukan sebelumnya yaitu polonium dan radium. Sementara Pierre berkonsentrasi pada penelitian fisika dari radiasi-radiasi baru, Marie terus berusaha untuk mencari cara mendapatkan radium murni dalam bentuk logam. Pada tahun 1903, hasil penelitiannya memberinya gelar doktor dan bersama Pierre memperoleh medali Davy dari Royal Society. Pada tahun yang sama, Marie mendapat hadiah Nobel bersama Becquerel dalam bidang fisika atas penemuan radioaktif.

Pada tahun 1897 keluarga ini dikaruniai putri pertama mereka yang mereka beri nama Irene. Putri kedua lahir pada tahun 1904 dan mereka beri nama Eve. Kelahiran kedua putri mereka tidak mengganggu intensivitas kerja ilmiah keluarga ini. Pada tahun 1900 Marie ditunjuk sebagai dosen pengajar di Ecole Normale Superieure sekolah khusus perempuan. Disini ia memperkenalkan metode mengajar berbasis demonstrasi eksperimen.

Pierre menolak kedudukan yang cukup tinggi di Universitas Jenewa untuk dapat tetap bekerja sama dengan Marie. Kemudian Pierre menerima jabatan pengajar dan professor di Universitas Paris. Pada tahun 1903 Pierre wafat karena kecelekaan pada saat ia sedang berjalan pulang dari tempat kerjanya.

Kematian mendadak suaminya merupakan pukulan berat bagi Marie dan anak-anaknya. Pukulan tersebut sekaligus menjadi titik penentu dalam karirnya. Ia mengabdikan diri sendirian untuk menyelesaikan penelitian ilmiahnya yang telah mereka kerjakan. Pada tahun 1906 ia ditunjuk sebagai professor di Universitas Paris; posisi yang menjadi lowong karena kematian suaminya. Pada tahun 1911 ia menerima hadiah nobel dalam bidang kimia, untuk keberhasilannya dalam isolasi radium murni.

Pada tahun 1914 Irene Curie, putri Marie, menjadi asisten ibunya di Institut du Radium Universitas Paris. Selama perang Dunia I terjadi Marie dengan dibantu oleh putrinya Irene mencurahkan segala perhatiannya pada pengembangan pemanfaatan X-radiography. Pada tahun 1918, Institut Radium menjadi pusat penelitian fisika nuklir dan kimia. Marie juga berhasil mendirikan Yayasan Curie di Paris dan pendirian Institut Radium di Warsawa dimana adiknya Bronia menjabat sebagai direktur.

Marie meninggal pada tahun 1934 karena terserang leukimia akibat reaksi radiasi radioaktif dalam tubuhnya. Pengabdian Marie pada ilmu pengetahuan dan pendidikan yang dia berikan pada putri-putrinya telah membuat lompatan dalam sejarah ilmu pengetahuan dunia. Ia telah memelopori, membuka jalan bagi penemuan lain dan meletakkan dasar-dasar ilmu yang terus berkembang seiring dengan berjalannya waktu.

Semua penemuannya dan segala catatan-catatan pribadinya tidak ada yang dia patenkan. Ia dan suaminya telah sepakat untuk mempersembahkan penemuan mereka untuk ilmu pengetahuan. Semua catatan yang dia susun dia publikasikan untuk kemudian secara terbuka ia akan menerima saran dan sanggahan atas teori-teorinya. Inilah suatu mental akhlak pejuang yang ada pada diri seorang ilmuwan sejati. Keikhlasan untuk berbuat, pengorbanan tanpa mengharap imbalan, dan sifat tidak kenal menyerah merupakan sifat yang jarang dimiliki apalagi berkumpul pada diri seseorang. Namun jika seseorang memiliki sifat-sifat seperti itu, maka dapat dipastikan ia adalah seorang yang berpotensi untuk mengubah dunia, memberikan suatu yang bermanfaat bagi sesamanya. Sifat-sifat itu ada pada diri keluarga Curie, dikombinasi dengan kecerdasan otak yang gemilang dan ketekunan pada bidang yang digelutinya. Perjuangannya diteruskan oleh anak didiknya dan terutama oleh putri dan menantunya, Irene dan Jean Frederick Joliot.

4. Irene Curie dan Joliot Frederic

clip_image008clip_image006Joliot Frederick lahir di Paris 19 Maret 1900. Joliot lulus dari École Supérieure de Physique et de Chimie Industrielle, Paris dengan predikat cum laude. Ia kemudian diterima bekerja sebagai peneliti muda pada Institut Radium Paris tempat Irene dan ibunya Marie Curie bekerja. Di tempat ini Joliot bekerjasama dengan Irene dan akhirnya menikah pada tahun 1926.

Hasil kerja Frederick dan Irene membawa pada pengembangan fisi nuklir, energi nuklir, dan bom atom. Di Institut Radium, Frederick mulai mempelajari radioaktifitas dengan menggunakan ruangan awan; yaitu suatu alat yang memperlihatkan partikel atom berarus listrik dalam bentuk jejak tetesan air. Ia menyelesaikan tesis doktornya, “Penelitian tentang Kimiaelektro pada elemen Radioaktif” pada tahun 1930.

Penelitian Joliot-Curie tertuju pada Fisika Nuklir. Pada tahun 1933, terinspirasi dari penelitian ilmuwan Jerman Walther Bothe, mereka membuat penemuan penting dimana elemen radioaktif dapat dibuat secara sengaja dari elemen yang atomnya relatif stabil. Pada penelitian yang terpisah, mereka menghujani alumunium foil dan boron dengan partikel alpha, hal itu mengakibatkan perubahan tidak permanen alumunium menjadi phosporus radioaktif dan menghasilkan bentuk radioaktif dari nitrogen yang berasal dari Boron. Percobaan ini merupakan terobosan pertama radioaktivitas buatan.

Radioaktif buatan adalah suatu proses untuk menimbulkan reaksi radioaktif pada suatu elemen yang tidak memiliki sifat radioaktifitas. Boron dan alumunium yang bukan radioaktif jika dihunani dengan partikel alpha ternyata menghasilkan isotop radioaktif. Penemuan ini membuka kemungkinan untuk menggunakan isotop radioaktif buatan ini untuk menelusuri perubahan kimiawi dan proses fisiologi. Aplikasi pada teori ini kemudian berhasil. Penyerapan radioiodine oleh kelenjar tiroid dapat terdeteksi, dan rangkaian radiophosphorus dalam bentuk phospat dapat terdeteksi pada metabolisme makhluk hidup. Mekanisme ini kemudian terus dikembangkan dalam ilmu kesehatan dan kedokteran modern.

Pada tahun 1935, mereka berdua mendapat hadiah nobel untuk kimia pada penelitian mereka tentang sintesa dari isotop radioaktif. Joliot-Curie kemudian pindah ke sebuah rumah di tepi Parc de Sceaux. Mereka meninggalkan rumah mereka hanya untuk mengunjungi rumah mereka di Brittany dimana diadakan pertemuan keluarga yang dilakukan sejak Marie Curie masih ada.

Sama seperti orang tuanya, Irene dan Joliot juga memutuskan untuk tidak mematenkan semua penemuannya, dan mempublikasikan catatan-catatan serta tulisan-tulisan mereka. Akan tetapi timbul masalah pada waktu muncul Nazi dan ideologinya. Menyadari bahaya yang dapat ditimbulkan dari aplikasi reaksi berantai dalam atom, mereka menghentikan publikasi. Pada bulan Oktober 1939, mereka mencatat prinsip-prinsip reaktor nuklir dalam amplop tertutup dan menyimpannya di Academie des Sciences dan tetap menjadi rahasia sampai tahun 1949.

Keluarga Curie tetap tinggal di Prancis yang diduduki Jerman dan memastikan bahwa pasukan Jerman yang datang ke laboratoriumnya tidak akan dapat menggunakan hasil kerjanya atau peralatannya. Mereka tetap melanjutkan penelitian mereka namun mengarahkan konsentrasi pada bidang biologi. Pada tahun 1939, Frederic mendemonstrasikan bersama Antoine Lacassagne penggunaan iodine radioaktif sebagai pelacak dalam kelenjar tyroid. Ia kemudian menjadi anggota Academie de Medecine pada tahun 1943.

Pada tahun 1945, Jenderal Charles de Gaulle mengotorisasi Frederic dan Kementrian Persenjataan untuk membuat Commissariat à l'Energie Atomique untuk mengaplikasikan penemuan mereka tahun 1939 yang tersimpan dalam amplop tertutup di Academie des Sciences. Irene mencurahkan pengalaman dan kemampuan ilmiahnya sebagai administrator penyediaan bahan mentah, pencarian uranium, dan konstruksi instalasi. Ia kemudian ditunjuk sebagai direktur Institute du Radium. Pada 1948, ZOE (zéro, oxyde d'uranium, eau lourde), reaktor nuklir pertama Perancis didirikan dan Frederic menjabat sebagai commissioner.

Pada tahun 1950 setelah mengalami beberapa kali operasi, Kesehatan Irene mulai menurun. Pada tahun 1953 Frederic mengalami serangan Hepatitis yang telah diidapnya selama 5 tahun. Pada tahun 1955 dalam keadaan sakit dan tubuh yang lemah Irene mengungkapkan keinginannya untuk mendirikan Laboratorium Fisika Nuklir di Université d'Orsay. Namun sebelum rencana ini terlaksana, pada tahun 1956 Irene meninggal dunia karena Leukimia akibat terlalu sering bergelut dengan radioaktif. Dalam keadaan sakit dan mengetahui bahwa hidupnya juga sudah tidak lama lagi, Frederic memutuskan untuk melanjutkan pekerjaan Irene dan menyelesaikan pendirian Laboratorium Orsay dan memulai risetnya pada 1958. Pada tahun yang sama, Jean Frederic Joliot meninggal dunia karena kerusakan dan kegagalan fungsi liver yang juga diakibatkan oleh Radiasi radioaktif.

Keluarga ini sungguh merupakan keluarga yang luar biasa. Adik Irene, Eve, meski tidak menjadi ilmuwan, ia menekuni bidang seni dan menjadi musikus dan komposer ternama. Prestasi yang ditorehkan keluarga ini pada lembaran sejarah dunia merupakan goresan tinta abadi yang dikenang dan dibaca orang sepanjang masa. Ketekunan, keikhlasan, didukung dengan kecerdasan yang luar biasa membuat seorang anak manusia yang membangun keluarga mampu menyumbangkan sebuah karya luar biasa yang mengubah wajah dunia. Pengabdian mereka dan kecintaan pada bidang yang mereka ahli didalamnya membuat nama keluarga ini tercatat abadi dalam sejarah dunia.

Kemampuan Marie Curie membagi waktunya dalam dua kehidupan sebagai ilmuwan yang berkutat di laboratorium dan sebagai ibu rumah tangga yang harus mendidik kedua anaknya sungguh luar biasa. Hal itu menjadi suatu yang mengagumkan ketika ia dan anak-anaknya mampu menerima kenyataan bahwa suami dan ayah mereka meninggal dalam kecelakaan tragis. Musibah ini justru membuat ia dan anak-anaknya makin kuat, tanpa sedikitpun mempengaruhi kualitas kerja Marie. Ia sukses sebagai ilmuwan yang diakui dunia dan sukses mendidik anaknya menjadi orang sukses. Suksesi sukses ini berlanjut pada putrinya Irene yang juga memiliki dua orang anak, Hélène dan Pierre. Irene menikah dengan seorang yang memiliki kualitas tinggi dan berdedikasi seperti halnya ibunya menikah dengan Pierre Curie. Kombinasi kemampuan dan kerja sama yang harmonis di keluarga ini, tercurahnya perhatian pada satu titik tujuan membuat sebuah keluarga mampu memberikan sebentuk cindera mata bagi peradaban manusia di bumi.

Mekar Wijaya; Disarikan dari

Encyclopedia Britannica 2008

Microsoft Student with Encarta Premium 2008

No comments:

Post a Comment