Saturday, 14 May 2011

Kunjungan Ke Luar Negeri


peter1_thumb6Peter The Great (1672-1725)  Lahir di Moskow, putra tunggal Czar Alexis dengan isteri keduanya, Natali Narishkina. Naik tahta pada tahun 1689 menggantikan Fyodor.

Pada akhir abad ke-17, Russia adalah negeri terbelakang dan tersisih dari pergaulan politik Eropa. Masyarakat Russia pada waktu itu masih percaya pada takhayul, memusuhi orang luar, dan kolot. Rusia tidak mengalami renaisance. Tidak ada literatur, matematika dan sains diabaikan.

Perekonomian Rusia bergantung pada sektor pertanian tradisional. Industri yang ada adalah industri rumah tangga yang masih menggunakan teknologi sederhana. Militer Rusia waktu itu merupakan angkatan perang primitif jika dibandingkan dengan militer negara Eropa lainnya. Sementara di Barat, Newton baru saja menulis prinsipnya dan filosofi serta literatur tumbuh subur. Rusia tertinggal berabad-abad dari negara Eropa Barat lain.

Pada tahun 1697-1698 Peter melakukan perjalanan ke Eropa Barat dengan membawa serta 250 orang. Perjalanan yang akan merubah wajah Rusia dan merubah tatanan dunia di kemudian hari. Dengan menggunakan nama samaran Pyotr Mikhaylov, Peter bisa melihat banyak hal yang tidak bisa diamatinya jika menggunakan nama aslinya. Peter sempat bekerja sebagai tukang kayu di galangan kapal VOC di Belanda. Ia juga bekerja di galangan kapal angkatan laut Inggris dan mempelajari persenjataan Prussia. Dia mengunjungi pabrik, sekolah, museum dan gudang senjata, ia juga menghadiri sebuah sesi di Parlemen Inggris. Ia belajar sebanyak-banyaknya dan menggunakan kesempatan itu untuk membuat dirinya benar-benar tahu berbagai hal.

Sekembalinya dari Eropa, Peter melakukan perubahan radikal pada sendi-sendi dasar negara dan kehidupan sosial masyarakat Rusia. Ia memperbarui organisasi, konsep dan persenjataan militer Rusia; terutama kekuatan lautnya, memperamping dan membuat aturan yang tegas pada birokrasi sipil pemerintahan, membangun industri mesin pertanian dan militer dengan teknik metalurgi dan manufaktur modern, dan membuat pajak-pajak baru yang merubah kehidupan rakyat sekaligus meningkatkan pendapatan negara. Perang melawan beberapa negara tetangga seperti Ottoman dan Swedia membuat modernisasi industri sipil dan militer semakin penting bagi Rusia.

Investasi modal besar-besaran dilakukan dengan memberikan berbagai kemudahan bagi pelaku bisnis dan industrialis Rusia waktu itu. Peter sadar bahwa ia harus melakukan sinkronisasi dan harmonisasi dengan para pelaku bisnis demi tercapainya industri modern Rusia. Ia mengirim banyak pelajar untuk belajar di Eropa dan mengundang para ahli dari berbagai negara untuk bekerja dan mengajar di Rusia. Peter membawa sebanyak mungkin budaya dan teknologi barat ke Rusia.

Peter The Great adalah seorang Tsar Rusia yang memiliki obsesi terhadap kekuatan maritim. Ia kemudian membangun angkatan laut Rusia untuk berperang melawan Turki Ottoman dan Swedia yang waktu itu merupakan negara yang memiliki angkatan perang yang besar, demi untuk mendapatkan pelabuhan laut. Langkah Peter membuka jalan Rusia ke laut ini berpengaruh permanen terhadap kemajuan bangsa Rusia.

Hasil usahanya membuat militer mendapatkan material yang dibutuhkan, dan dalam waktu singkat militer Rusia menjadi angkatan perang yang disegani di Eropa. Teknik metalurgi dan manufaktur Rusia juga meningkat pesat dan pada pertengahan abad 18 Rusia mengungguli negara Eropa lain di bidang ini. Perdagangan luar negeri Rusia  dan pendapatan Rusia meningkat 7 kali lipat dalam masa pemerintahannya. Hal ini merupakan prestasi besar sebuah kepemimpinan yang dibangunnya. Keadaan ini bertahan hingga menjadikan Rusia sebagai satu kekuatan dunia.

Peter merupakan pemimpin Rusia pertama yang memelopori pendidikan sekuler dan menempatkan pengendalian pemerintah di bidang ini. Pemerintahan Peter mendorong penerjemahan buku-buku Eropa kedalam bahasa Rusia. Surat Kabar pertama Rusian “Vedomosti” terbit pada tahun 1703. Akademi Ilmu Pengetahuan Pertama Rusia didirikan pada tahun 1724.

Peter Agung diakui sebagai Tsar Rusia terbesar sepanjang sejarah. Berbagai perlawanan terjadi karena kebijakannya yang radikal. Peter menggilas semua perlawanan dalam negeri dengan tegas. Tiga puluh enam tahun pemerintahannya membuat Rusia yang miskin, terbelakang dan tidak memiliki satupun armada laut, menjadi negara Rusia yang memiliki kekuatan militer yang kuat baik di darat maupun di laut, industri dengan tekonologi maju dan perdagangan luar negeri yang memberi Rusia kekayaan berlipat ganda. Peter the Great merupakan pemimpin negara yang memiliki visi dan pandangan dua abad lebih maju dari orang lain di negaranya. Rusia beruntung memiliki pemimpin seperti Peter The Great, meskipun ia banyak melanggar HAM.

Pemimpin diatas melakukan kunjungan ke luar negeri untuk melihat dan mempelajari hal-hal yang diperlukan untuk memajukan negaranya. Mengambil dari lluar dan menerapkan yang terbaik dan sesuai dengan jati diri bangsanya, kemudian mengembangkan dengan kekuatan dan kemampuan sendiri untuk mencapai kemandirian dan kemajuan bangsa. Kalau perjalanan ke luar negeri yang dilakukan oleh para anggota DPR kita maupun para pejabat pemerintah dapat memberikan dampak perubahan yang signifikan terhadap konsep pembangunan dan kemajuan bangsa ini, berapapun biayanya pantas untuk dilakukan. Peter The Great membawa 250 orang bersamanya dan mereka semua mencatat yang dilakukan Peter. Namun demikian, tidak mungkin setiap akan menyusun atau mensahkan undang-undang harus studi banding ke luar negeri dulu. Setiap bidang, setiap komisi yang mengurusi hal yang berbeda masing-masing harus pergi ke luar negeri. Kasihan rakyat kita harus membiayai pejabat pergi ke luar negeri. Begitu juga pejabat pemerintah kita. Kalau pergi ke luar negeri adalah tugas belajar atau suatu yang penting mungkin tidak apa-apa. Tapi jangan semua hal dianggap penting. Ukuran penting atau tidak ini harus diukur secara tepat. Persyaratan dari kunjungan atau studi banding ini harus diperketat. Setiap orang yang berkunjung ke luar negeri mungkin harus diwajibkan untuk menyusun laporan tertulis yang dimuat di media dan diketahui oleh banyak orang. Apa yang didapat dari kunjungan itu dan apa yang bisa diterapkan dalam menangani masalah di Indonesia. Paling tidak dengan cara ini orang akan mengetahui kualitas dari kunjungan yang dilakukan oleh Wakil Rakyat Yang Terhormat dan pejabat pemerintah kita.

Apa yang sudah ditulis dalam laporan kunjungan ke luar negeri juga harus diikuti dengan implementasi yang nyata. Hal ini juga harus diberitakan di media dan dilaporkan secara terbuka. Dengan demikian kalau memang dikatakan bahwa kunjungan keluar negeri anggota DPR maupun pejabat pemerintah (Eksekutif) sudah direncanakan, maka rencana itu harus dituntaskan sampai selesai. Namun sebelumnya harus ditentukan dulu mana yang benar-benar diperlukan dilakukannya kunjungan ke luar negeri dan mana yang tidak. Masalah penting tidak selalu harus pergi ke luar negeri. Masalah yang mungkin tidak terlalu mendesak atau tidak berpengaruh besar terhadap kehidupan rakyat banyak tidak perlu harus pergi ke luar negeri. Banyak cara lain yang jauh lebih efektif dan efisien untuk mengetahui atau mencari informasi atas suatu masalah. Kepergian anggota DPR ke luar negeri sekarang ini hanya menjadi bahan tertawaan mahasiswa kita di Australia. Ada beberapa orang anggota yang tidak bisa bahasa Inggris pergi ke Australia dan diberitakan mereka membawa penerjemah. Agak sulit dibayangkan kalau ke luar negeri tanpa kemampuan bahasa Inggris yang cukup. Apa bedanya dengan TKW? Disana mendengar apa? Membaca apa?

Pemborosan uang negara yang dilakukan oleh para pejabat pemerintah merupakan tanda bahwa kita adalah negara yang tidak punya arah dan cita-cita bersama. Kita negara yang memiliki petinggi negara yang memikirkan perutnya sendiri untuk makan hari ini dan bagaimana modal yang digunakan untuk mendapatkan kedudukan bisa kembali. Kalau itu yang terjadi, jangan bermimpi masyarakat Indonesia akan menjadi makmur. Rakyat kita akan menjadi rakyat yang diperbudak oleh para pemimpinnya sendiri. Dan nanti tahun 2015 kalau kita tidak mau berubah, kita akan menjadi MASYARAKAT EKONOMI KASIHAN. Apa yang sudah kita lakukan untuk mempersiapkan rakyat Indonesia menghadapi perdagangan bebas China-ASEAN? Kualitas Sumber Daya Manusia kita jauh dibandingkan dengan China dan beberapa negara ASEAN. Di Indonesia ini ada juara fisika tingkat dunia dan ada orang yang tanggal 10 ditanya dua tambah dua berapa, dijawabnya tanggal 14, itupun jawabannya salah.

Tidak meratanya pendidikan dan kualitas pembangunan di Indonesia membuat negara ini menjadi agak sibuk mengurusi masalah-masalah yang ditimbulkan karena kesenjangan sosial. Atau masalah-masalah yang disebabakan karena kurangnya disiplin warganya. Seperti misalnya masalah penumpang gelap di kereta api Jakarta. Mereka naik ke atap kereta bukan karena di dalam sudah penuh tapi karena tidak mau membayar. Mereka tetap membandel walaupun sudah disemprot dengan cat. Mereka malah melempari dan merusak alat penyemprot. Hal ini sangat memalukan. Mungkin kalau mereka tidak mau disemprot cat, mereka harus disemprot peluru sehingga mereka tidak akan mengulangi lagi naik kereta api di atapnya. Tapi itu berarti melanggar HAM. Mengatur orang yang pola pikirnya sempit merupakan hal yang sangat sulit untuk dilakukan. Kalau rakyat jelata yang berpikir sempit, hal itu dapat dimaklumi tapi kalau pola pikir sempit itu dimiliki oleh para pejabat suatu negara, maka akan sangat berbahaya untuk kelangsungan hidup negara tersebut. Indonesia ini negara yang lengkap. Rakyatnya tidak mau bayar ongkos kereta, pemimpinnya “tamasya” (kunjungan ke luar negeri tanpa pertanggungjawaban) dengan ongkos negara. Sebaiknya ongkos tamasya ke luar negeri para pejabat dipangkas untuk membayar ongkos bagi mereka yang tidak mau membayar ongkos kereta.

No comments:

Post a Comment