Merapi belum selesai mengeluarkan awan panas. Saudara-saudara kita di Wasior masih belum jelas nasib dan masa depannya. Mentawai masih luluh lantak dilanda Tsunami. Sekarang Bromo mengepulkan asap dan terjadi gempa 5,5 SR di Maluku. Negara ini benar-benar sedang dilanda kesedihan. Bencana merata dari Barat sampai ke Timur. Negara ini sedang diberi ujian.
Dulu ada orang yang mengatakan bahwa kalau Merapi meletus, Pulau Jawa akan terbelah dua. Sekarang Merapi meletus dan Jawa tetap menyatu tak kurang suatu apa pun. Mbah Merapi yang meninggal dalam keadaan bersujud dipercaya sebagai juru kunci Merapi. Beliau tidak mau menaati perintah Sultan HB X dan mengatakan bahwa beliau bukan raja tapi gubernur. Sedangkan tanggung jawabnya adalah kepada Raja, HB IX. Beberapa ustadz di masjid mengatakan bahwa bencana ini adalah hukuman buat bangsa kita. Bangsa kita harus segera bertobat. Pemerintah bukan pemerintah yang Islami sehingga bencana diturunkan untuk menghukum negeri ini. Pekerja Seks Komersial seharusnya diberantas bukan malah diberi tempat sehingga terbentuk PUJASERA (Pusat Jajan Serba Ada).
Kita tidak butuh omongan seperti ini. Kobe di Jepang dilanda gempa dengan skala yang sebenarnya relatif kecil. Bangunan-bangunan di Kobe sudah dirancang untuk tahan gempa. Namun karakteristik gempa Kobe waktu itu memang berbeda. Pusat gempa hanya 15 km dibawah permukaan. Guncangan yang diakibatkan gempa tersebut menjadi jauh lebih besar. Rancangan bangunan di Kobe waktu itu berdasarkan peraturan yang dibuat pada tahun 1960-an, berdasarkan pengalaman gempa sebelumnya. Pelabuhan Kobe juga hancur lebur dan gempa ini mengakibatkan kehancuran di radius 20 Km dari pusat gempa.
Tapi Jepang membangun kembali Kobe. Mereka mempelajari gempa dan bencana yang menimpa dengan cara berpikir yang tepat sehingga menghasilkan tindakan yang benar. Mereka membuat early warning system untuk Tsunami.
Alat deteksi dini di perairan lepas Mentawai rusak karena dicuri suku cadangnya. Masyarakat di Merapi sulit diminta mengungsi karena mengikuti Mbah Merapi dan berat meninggalkan ternak mereka. Wasior hanyut juga masih menjadi pertanyaan. Apakah karena penebangan hutan atau murni bencana? Bencana di Indonesia ini memang sebagiannya kesalahan kita sendiri.
Indonesia adalah negara yang berada dipertemuan lempeng-lempeng bumi. Sebagian besar daerah Indonesia rawan gempa. Indonesia juga dipenuhi dengan gunung berapi. Merapi merupakan salah satu gunung berapi paling aktif di dunia. Untuk masyarakat Merapi yang sangat terikat dengan tempat dan kehidupan di lereng gunung memang sulit untuk dipindahkan begitu saja. Mereka juga tidak tenang di pengungsian karena memikirkan ternak mereka. Begitu pula rakyat di Mentawai.
Mereka yang berada didaerah rawan bencana harus betul-betul sadar bahwa mereka memiliki potensi kemalangan atau resiko yang harus mereka tanggung. Bicara mengenai resiko, merupakan pembicaraan yang sangat disukai oleh agen-agen asuransi. Apakah mungkin kalau penduduk di daerah rawan gempa itu diasuransikan? Gunung meletus, gempa dan tsunami merupakan kejadian yang tidak bisa diprediksi dengan tepat kapan akan terjadi. Mungkin apa tidak dibuat suatu sistem semacam asuransi, sebut saja asuransi gunung meletus dan asuransi tsunami? Premi asuransi ditanggung sebagian oleh tiap warga yang terdaftar sebagai warga di daerah rawan bencana, sebagian mungkin bisa ditanggung pemerintah. Asuransi ini mencakup asuransi jiwa dan harta benda termasuk ternak. Asuransi dijalankan oleh perusahaan asuransi yang betul-betul profesional. Apabila dalam jangka waktu sekian tahun tidak terjadi bencana, maka uang yang ditanamkan dapat dicairkan. Jadi perusahaan asuransi di Indonesia bukan hanya menjaring orang-orang di perkotaan. Resiko yang ditanggung juga bukan saja penyakit kebanyakan makan seperti jantung koroner.
Berbagai macam asuransi ditawarkan dengan berbagai cara oleh perusahaan asuransi. Dengan mengasuransikan masyarakat di daerah rawan bencana akan membantu pemerintah dalam meringankan beban masyarakat yang terkena bencana. Hal ini juga akan membuat masyarakat tenang di pengungsian. Dengan cara seperti ini maka sekaligus akan dapat memasyarakatkan asuransi dan mengasuransikan masyarakat. Hal ini juga akan mendidik masyarakat untuk berpikir logis dan masuk akal.
Sekian dari saya, sekedar pikiran rakyat jelata. Yang salah dari saya, yang benar dari Allah.
Mekar Wijaya

No comments:
Post a Comment