Masyarakat Indonesia telah bertahun-tahun dibuai dengan harga BBM Rp 1.000. Harga ini sebenarnya tidak masuk akal dan tidak semua orang tahu kenapa BBM bisa 1.000 rupiah. Sekarang ini kita sudah dibangunkan dan dipaksa melihat realita yang sebenarnya. Harga minyak dunia sempat melambung tinggi dan kondisi keuangan negara tidak memungkinkan untuk terus memberikan subsidi. Akhirnya pemerintah mengambil kebijakan untuk menaikkan harga BBM. Kebijakan ini juga diikuti dengan kebijakan-kebijakan lain yang ditujukan untuk menghemat pengeluaran pemerintah.
Kebijakan menaikkan harga BBM merupakan keputusan sulit yang diambil dengan sangat terpaksa. Tidak akan ada pemerintahan yang menaikkan harga BBM karena sekedar hobi saja. Naiknya harga BBM akan diikuti dengan kenaikan tarif angkutan yang akan memicu kenaikan harga bahan pokok. Hal itu kemudian akan memperberat kehidupan rakyat Indonesia.
Pada waktu kebijakan menaikkan BBM dilakukan pemerintah, ribuan mahasiswa turun ke jalan. Segalanya dibuat rame. Ketua-ketua partai bicara lantang. Wajah sedih mereka terpampang besar di koran. Orang-orang dari organisasi-organisasi yang tidak jelas juga turun ke jalan. Mereka tidak rela BBM naik karena akan membuat rakyat menderita. Pemerintah dicaci maki. Rupanya orang-orang yang turun ke jalan pada waktu BBM naik itu merupakan patriot-patriot rakyat yang sangat memperhatikan kondisi rakyat Indonesia; dan tidak ada yang menyuruh atau memancing serta mengkoordinir mereka. Mereka melakukannya dengan hati yang tulus ikhlas.
Waktu berlalu dan kebijakan terus berjalan. Harga BBM tetap naik dan tarif angkutan juga naik. Harga bahan pokok pun naik juga. Hidup rakyat memang jadi makin sulit dan jumlah orang miskin meningkat. Ada kebijakan BLT (Bantuan Langsung Tunai) yang sepertinya tidak terlalu bermanfaat pada jangka panjang. Tetapi waktu tetap berlalu dan sekarang kita melihat pedagang baso, pedagang nasi goreng tidak lagi menggunakan minyak tanah untuk memasak. Mereka sudah menggunakan gas untuk memasak dan menggunakan aki atau lampu berbatere untuk penerangan gerobak mereka. Mereka tidak menyadari bahwa apa yang mereka lakukan telah menyelamatkan bangsa ini dari kepailitan dan memberikan kesempatan bagi anak cucu kita di masa datang untuk menjadi warga bangsa yang punya harga diri.
Subsidi BBM telah dikurangi dan mungkin kalau bisa dihilangkan. Energi merupakan kebutuhan vital bagi bangsa ini. Sebuah komunitas akan dapat bertahan jika komunitas tersebut dapat mengefisienkan segala konsumsi dan mengefektifkan segala alat produksinya. Untuk melakukan hal itu kita perlu teknologi. Teknologi yang dapat menggantikan bahan bakar hidrokarbon atau teknologi yang membuat pemakaian BBM menjadi lebih efisien dan teknologi lain yang dapat menciptakan energi. Sampai hari ini, sumber energi yang paling efisien yang sudah ditemukan adalah teknologi nuklir. Tapi sayang kita belum mengembangkan dengan maksimal. Bahkan ada seorang ahli fisika nuklir yang hidupnya susah di Indonesia karena tidak mendapat kesempatan kerja di bidangnya.
Rakyat Indonesia harus memahami naik turunnya harga BBM sebagai dampak dari naik turunnya harga minyak dunia. Kebijakan menaikkan harga BBM pada periode pemerintahan yang sekarang adalah yang terbesar karena tahapan pengurangan subsidi BBM ini "dikumpulkan" pada pemerintahan ini. Pada masa akan datang kenaikan harga BBM harus disikapi dengan perilaku yang sewajarnya saja. Kalau memang harga minyak dunia naik dan pemerintah menaikkan harga BBM, tidak perlu ribuan orang turun ke jalan. Berpanas-panas dan berlelah-lelah, karena percuma toh harga BBM tetap naik. Para tokoh partai politik tidak perlu memasang foto cemberut atau mengatakan supaya jangan pilih presiden ini lagi.
Begitu pula kalau harga BBM diturunkan. Tidak usah pasang iklan di TV supaya orang mengucapkan terima kasih. Terima Kasih untuk apa? Kenapa harus berterima kasih kepada pemerintah? Kenapa harus berterima kasih kepada Presiden? Hal itu sama sekali tidak mendidik. Harga BBM turun karena harga minyak dunia turun. Minyak di Indonesia bukan milik pemerintah. Bukan milik presiden. Milik rakyat. Kenapa rakyat harus mengucakan terima kasih kepada orang pribadi yang dipilih rakyat untuk jadi presiden?
Waktu BBM naik, ribuan orang turun kejalan mencaci maki presiden dan pemerintah. Waktu BBM turun, presidennya turun ke jalan, ke stasiun-stasiun untuk memeriksa secara langsung penurunan tarif angkutan. Untunglah harga minyak dunia relatif stabil. Karena kalau tidak, negara ini bisa bubar karena presiden dan rakyatnya bergantian turun ke jalan. Tidak usah begitu lagi lah. Akan sangat berbahaya jika urusan energi ini dipolitisir. Orang yang tidak berkesempatan menjadi pemerintah akan melakukan segalanya untuk membuat rakyat kekurangan BBM. Rakyat Indonesia harus bisa melihat segala sesuatu dengan jernih dan objektif.
Pengelolaan energi dan sistematika keuangan serta prosedur resmi di bidang energi merupakan warisan Orde Baru yang penuh lika liku. Kalau orang belum tahu bisa tersesat. Waktu Orde Baru jatuh lika liku ini semakin menjadi karena makin banyak "gerbang tol" yang harus dilalui. Kalau dulu perusahaan minyak asing cukup menggandeng keluarga Cendana untuk mendapatkan ladang minyak, sekarang harus menggandeng puluhan orang yang tdak memiliki hubungan keluarga. Ini hanya misal saja. Kalau melihat dari sisi ini, memang tidak adil bila mengorbankan rakyat dengan menaikkan harga BBM. Mungkin kalau masalah percaloan yang membuat impor BBM menjadi sangat mahal bisa dihilangkan, ladang-ladang minyak dikelola oleh kita sendiri dan prosedur serta sistematika keuangan dan prosedur resmi di"lurus"kan, pemerintah tidak perlu menaikkan harga BBM. Tapi butuh waku bertahun-tahun untuk me"lurus"kan ini. Orang Indonesia tidak suka barang yang "lurus" kita lebih suka barang yang mleot-mleot.
Di negara maju, setiap pom bensin memiliki harga yang berbeda tergantung pemiliknya. Harganya juga naik turun sesuai dengan naik turunnya harga minyak dunia. Banyak yang harus dibenahi di negeri ini. Sekarang Indonesia berjalan menuju ke arah yang lebih baik. Saya sebagai rakyat juga akan menjadi warga bangsa yang lebih baik. Semoga kita semua demikian.
Majulah Bangsaku, Jayalah Negeriku, Hiduplah Indonesia Raya

No comments:
Post a Comment