Friday, 17 June 2011

PANCABRATA PANCASILA

 garuda-pancasila1 http://saripedia.wordpress.com/2010/08/19/sultan-hamid-ii-adalah-perancang-lambang-negara-republik-indonesia/

  1. KETELADANAN PEJABAT NEGARA DAN PERIMBANGAN BERITA DI MEDIA

    Era keterbukaan informasi yang kita alami sekarang ini, membuat masyarakat memiliki akses untuk mendapatkan informasi dengan mudah. Rakyat melihat segala hal yang dipublikasikan oleh media mengenai pejabat-pejabat negeri ini. Publikasi media sangat mempengaruhi pola pikir dan pola perilaku masyarakat Indonesia, terutama media audio visual seperti televisi. “Magic Box” ini mampu menembus sampai ke tingkatan bawah sadar pemirsanya. Apa yang pemirsa lihat di televisi diterima dengan dua indera, mata dan telinga. Otak manusia akan mencatat dengan jelas dalam “database” ingatan apa yang diterima oleh mata dan telinga.

    Pancasila tidak bisa dipaksakan dari bawah, dari masyarakat umum. Penataran P4, Pendidikan Moral Pancasila, PPKN dan lain sebagainya tidak bisa kemudian menanamkan perilaku yang Pancasilais. Hal itu semua sekedar hapalan semata. Pancasila harus dimulai dari mental dan perilaku pejabat negara. Pejabat negara di eksekutif, legislatif dan yudikatif yang harus ditatar, bukan rakyat jelata. Rakyat jelata akan mencontoh pejabat negara dan pemimpinnya. Tapi penataran untuk pejabat juga nantinya tidak akan banyak berguna. Hal ini akan menjadi lelucon saja kalau dilakukan. Pancasila merupakan panutan pola perilaku. Kalau pejabatnya menerapkan Pancasila dalam perikehidupannya maka rakyat jelata seperti saya ini akan melihat dan mencontoh. Management of people must begin with management of self. Hal ini merupakan jalan terbaik untuk mengatur negara sesuai dengan pranata sosial, agama dan ketatanegaraan. Apabila pejabat pemerintah “terpublikasikan” melakukan hal-hal yang tercela, akan berdampak buruk bagi pemerintah sendiri dan akan berpengaruh pada pola pikir masyarakat. Pemerintah rezim pembangunan sangat mengerti hal ini. Mereka membungkam media, dan menjadikan media sebagai pengharum kebobrokan pejabat-pejabatnya. Sekarang yang terjadi justru sebaliknya. Bukan saya mencela media yang sekarang ini punya kedudukan yang sangat agung. Tapi sekarang ini hampir tidak ada sama sekali berita yang berisi hal-hal yang baik tentang pemerintah kita. TVRI menayangkan acara “Daerah membangun”. Acara ini meliput pembangunan dan perubahan yang terjadi di daerah. Tapi TVRI ini bisa bertahan dalam putaran waktu sebagai media nasional saja sudah sangat bagus sekali. Dengan keterbatasannya, masih bisa menyajikan siaran-siaran yang baik dan bermutu. Tapi TVRI ini siapa yang mau melihat? Orang-orang yang bekerja di TVRI sebagian besar adalah karena unsur pengabdian.

    BACA SELURUH ARTIKEL

No comments:

Post a Comment