Monday, 19 January 2009

TENTARA ISRAEL MEMASUKI GAZA CITY

 

Serangan Israel telah memasuki tahap kedua dari (mudah-mudahan) dua tahap strategi penyerangannya. Pemboman selama sembilan hari diperkirakan telah melumpuhkan perlawanan bersenjata kelompok HAMAS yang ada di kawasan tersebut. Angkatan Darat Israel dengan leluasa memasuki kota-kota di Jalur Gaza dan mendekati Gaza City.

Saya pribadi melihat serangan ini sebagai tindakan pemerintah yang berdaulat untuk melindungi warga negaranya dan segenap tanah tumpah darahnya (meskipun tanahnya tanah sengketa) dari serangan pihak luar. HAMAS menembakkan roket ke pemukiman sipil Yahudi. Penembakkan itu bukan perintah langsung dari presiden Palestina, bukan perintah dari pemerintah Palestina yang sah dan pemerintah Palestina tidak mampu melarang mereka melakukan hal itu. Penembakan tersebut merupakan tindakan orang kurang kerjaan yang diberi senjata mainan untuk menggoda Bangsa Yahudi. Umat Islam di dunia juga tidak mengomentari hal itu, seakan-akan tindakan tersebut merupakan tindakan terpuji yang diajarkan Islam dalam Al-Qur'an dan Hadist. Mesjid-mesjid tidak mendoakan orang Yahudi yang ditembak roket oleh HAMAS seakan-akan mereka memang sudah pantas dan selayaknya menerima tembakan roket tersebut.

Tindakan penembakan roket ke pemukiman sipil Yahudi adalah tindakan bodoh yang mencoreng nama dan perjuangan Islam. Tindakan iseng yang dilakukan tanpa koordinasi, tanpa perencanaan, tanpa pikiran dan tanpa strategi. Pokoknya yang penting Jihad di jalan Allah. Penembakan itu merupakan tindakan terorisme. HAMAS tidak bernegara, tidak memiliki keabsahan dalam segala segi apapun untuk melakukan hal itu. Apabila mereka benar-benar ksatria harusnya mereka mampu melindungi rakyat Gaza dari gempuran tentara Israel. Jihad mereka adalah penyebab dari bergeraknya militer Israel ke Jalur Gaza.

Presiden Palestina menyatakan akan melindungi rakyatnya dari serangan Israel. HAMAS menyatakan akan memukul mundur pasukan Israel jika melakukan serangan darat. Mau dipukul pakai apa? Petasan Bumbung? Senjata apa yang militer Palestina punya. Senjata sisa-sisa dari Rusia? Atau mau berharap mukjizat turun ke bumi seperti pada waktu perang Badar? Kondisinya sudah berbeda sekarang. Harusnya penembakan roket ke pemukiman Yahudi itu dipikir dahulu masak-masak. Paling tidak persiapkan dulu apa yang mungkin terjadi jika tindakan itu dilakukan. Sekarang semua sudah terlambat dan hal ini seakan-akan membuktikan bahwa Islam adalah agama yang mengajarkan untuk bertindak dulu baru berpikir; padahal tidak.

Serangan militer Israel membuat imam-imam mesjid disini membacakan ayat-ayat tentang bangsa Israel. Khutbah Jum’at mengutuk dan mencaci maki orang Israel. Doa sesudah shalat memohon-mohon (dalam bahasa Arab yang saya kurang paham) supaya Allah menolong orang-orang Palestina. Jemaah Ta’lim menceritakan keburukan orang Yahudi dalam al-Qur'an. Sebagai muslim saya menghargai usaha-usaha ini. Tetapi jangan sampai hal-hal ini menumbuhkan kebencian dan nafsu yang tidak tersalurkan dari umat muslim di Indonesia yang akhirnya merusak diri kita sendiri.

Serangan Israel adalah serangan militer yang tertata, terencana, terorganisir dan teratur rapi. Mereka tidak akan masuk Gaza sebelum Tel-Aviv memerintahkan untuk masuk. Israel memiliki alibi dan dasar yang jelas untuk melakukan penyerangan itu. Israel berkoordinasi dengan sekutu-sekutunya dan meminta dukungan. Isu dunia sekarangpun yaitu terorisme menjadi dalih yang sangat kuat untuk mengesahkan serangan itu. Masalah korban jiwa yang berjatuhan itu keadaan yang tidak bisa dihindari dalam keadaan perang. Dan itu kesalahan orang HAMAS sendiri kenapa mengajak perang dalam keadaan yang sama sekali tidak siap. Jumlah korban yang katanya mencapai 400 atau 500 atau 4.000 atau 5.000 hanya masalah jumlah saja. Banyaknya korban yang jatuh di pihak Palestina karena peralatan tempur Israel memang efektif sebagai pembunuh masal. Sedangkan di pihak Israel yang ditembak roket mainan jarang ada yang mati karena senjata pembunuhnya kurang bagus. Harusnya orang Palestina bertanya pada orang Israel; itu senjata beli atau bikin? Kalau beli, belinya dimana? Lengkapi dulu tentara Palestina dengan senjata seperti itu, baru mengajak perang.

Akan berbeda halnya apabila HAMAS memiliki senjata pemusnah masal yang bagus seperti Nuklir misalnya. HAMAS akan dengan suka ria dan gembira menembakkan peluru kendali berhulu ledak nuklir ke pemukiman Yahudi tanpa ada perintah presiden Palestina atau perintah dari siapapun. Mereka menembakkan peluru nuklir itu karena dianggap sebagai Jihad, padahal tidak. Untunglah mereka tidak punya nuklir. Kalau HAMAS punya nuklir, bumi ini akan hancur. Harusnya mereka diarahkan untuk melakukan hal-hal yang lebih positif seperti kursus komputer, kursus menjahit, merangkai bunga, lari pagi, bermain sepatu roda, latihan menyanyi, berlatih menari, bercocok tanam, memanjat pohon, menggali sumur, membersihkan kamar mandi, menyapu halaman, mengepel lantai, mencuci baju, membantu ibu di dapur, menemani ibu ke pasar, atau apa sajalah yang lebih bermanfaat.

Tahap kedua dari penyerangan Israel ini merupakan tahap yang sangat menentukan. Saya hanya berharap supaya Israel tidak bertindak gegabah. Sejarah bangsa-bangsa di dunia menceritakan bahwa penaklukkan suatu kota akan diikuti dengan pemusnahan penduduknya. Jangan sampai hal itu terjadi. Itu akan sangat membahayakan untuk Israel sendiri. Selain itu, kalau itu terjadi orang-orang Islam di Indonesia akan gempar. Demonstrasi dimana-mana, kemarahan orang disalurkan ke tempat-tempat umum, ribuan orang turun ke jalan dan lain sebagainya. Itu akan membuat repot aparat disini.

Profesionalisme militer Israel diuji saat ini. Apakah mereka akan melakukan pembunuhan yang membabi buta, atau memang mau menangkap orang-orang HAMAS sesuai perintah Tel-Aviv. Bagaimanapun pembantaian dan pembunuhan massal penduduk sipil, dalam kondisi perang sekalipun, tidak diperbolehkan. Mesir setuju atas tindakan Israel menyerang Gaza untuk menumpas HAMAS, karena Pemerintah Mesir juga dibikin repot dengan Islam garis keras disana. Tetapi apabila terjadi hal-hal diluar batas tentu semua orang juga tidak akan setuju; dan akan memicu konflik yang lebih luas dan dahsyat.

Upaya damai juga harus segera dilakukan supaya hal ini tidak berlarut-larut. Dulu, Perdana Menteri Israel Golda Meir berkata; "I’m convince honest and sincerely believe that my grandchildren will live in an area of peace in the middle east. Because there other grandmothers in Egypt, and in Syria and in Jordan that have grandchildren and they’re also want them to live. The grandmothers and mothers want their children to live." Kata-kata ini diucapkan oleh seorang ibu, seorang nenek yang ingin menyaksikan anak dan cucunya hidup damai di Timur Tengah. Keinginan ini juga menjadi keinginan semua ibu, nenek, ayah dan orang tua di Timur Tengah. Mereka ingin anak cucu mereka hidup berdampingan dengan damai.

Upaya diplomasi sebenarnya sudah dilakukan waktu Bill Clinton menjadi Presiden. Pada September 1993, Yithzak Rabin dan Yasir Arafat telah menyetujui perjanjian bersejarah. Perjanjian ini sebenarnya membangun jalan menuju perdamaian di Timur Tengah. Waktu itu Yithzak Rabin berkata; “WE, WHO HAVE FOUGHT AGAINTS YOU, THE PALESTINIANS, WE SAY TO YOU TODAY, IN A LOUD AND A CLEAR VOICES; ENOUGH OF BLOOD AND TEARS. ENOUGH”. Kata-kata itu terucap dari seorang yang berhati bersih yang menginginkan perdamaian. Kalimat yang terucap dari keinginan untuk membuat dunia ini menjadi lebih indah.

Namun sayang, paham fundamental dari kedua belah pihak menghancurkan perdamaian tersebut. Kita harus sadari bahwa untuk kelompok tertentu, perang di Timur Tengah adalah ladang uang buat mereka Orang-orang garis keras dari kedua belah pihak lebih suka berperang dan menyengsarakan rakyat dari pada berdamai dan membangun dirinya..

dfgxdf

Tidak mungkinkah hal ini tercapai sekarang? Tidak inginkah kita mewujudkan mimpi pemimpin-pemimpin kita dahulu sehingga kita menjadi generasi yang lebih baik? Atau kita memang ingin melihat mayat bergelimpangan, darah berceceran, teriakan, tangisan ratapan terus ada. Tidak adakah tokoh besar sekelas Bill Clinton, Yitzhak Rabin, Yaser Arafat yang dapat menciptakan perdamaian yang sedikit permanen di Timur Tengah? Tidak inginkah kita membuat dunia ini menjadi tempat yang lebih nyaman untuk ditinggali? Untuk kita dan untuk anak cucu kita? Mungkinkah kalimat itu terucap lagi sekarang, dari lidah seorang pemimpin? Tidak peduli jenis kelaminnya, warna kulitnya, kewarganegaraannya, potongan rambutnya, bentuk badannya.

Pada dasarnya, pertikaian di Timur Tengah tidak lagi murni soal agama. Dari jaman perang salib pun sudah tidak murni perang agama. Sudah merupakan perang biasa berebut sumber-sumber ekonomi. Jangan terlalu naif untuk membawa-bawa agama dalam masalah ini. Kalau membawa agama, masalahnya tidak akan selesai. Campur tangan negara-negara yang mayoritas penduduknya Islam seperti Indonesia sebenarnya dibutuhkan. Semoga perang ini cepat berakhir. Persoalan ini bisa selesai dan penderitaan rakyat Palestina dan Israel; terutama rakyat Palestina, segera berakhir.

No comments:

Post a Comment